Ad Top

Misteri Tiga Tugu Nol Kilometer di Lembang, Mana yang Benar?

8/1/2018 by Radja
Bandungpedia
Foto: Radja

SUDAH lebih dari tiga tahun ini Juliana (39) bersama isterinya berjualan es kelapa di pinggir ujung Jalan Raya Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya berada persis di persimpangan antara Jalan Raya Lembang, Jalan Panorama, Jalan Maribaya, dan Jalan Tangkubanperahu. Tepat di depan gerobaknya, terdapat tugu nol kilometer.

Namun, tugu nol kilometer ternyata tak hanya ada di situ. Di seberangnya, di bawah plang Jalan Maribaya, terdapat tugu nol kilometer yang lain.

Akan tetapi, berdasarkan pantauan, tugu nol kilometer di ujung barat Jalan Maribaya tertutup oleh papan Satlantas Polres Cimahi. Tugu tersebut memang berada di dekat pos polisi.

Bukan hanya ada dua, tugu nol kilometer juga masih ada di ujung timur Jalan Grand Hotel, yang berbatasan dengan Jalan Panorama sebelah selatan. Dengan kehadiran tiga tugu nol kilometer, lantas di mana letak nol kilometer dari Lembang yang sebenarnya?

"Setahu saya cuma di sini. Saya enggak tahu kalau ada yang lain lagi. Kalau ada tiga tugu ya enggak tahu mana yang benarnya. Tugu nol kilometer kan biasanya buat hitungan kalau mau ke tempat lain. Bahwa nol kilometernya Lembang ada di sini," kata Juliana, dalam perbincangan pada Senin, 8 Januari 2018.

Berdasarkan obrolan dengan orang-orang, dia menyatakan bahwa pusat Lembang berada di sekitar tempat dagangnya.

"Pusarnya itu di sini. Orang bilang di sini itu tanah emas. Makanya ramai. Itu dari dulu," kata Juliana, yang sudah bertahun-tahun merantau dari Kuningan ke Lembang.

Tak bisa dianggap sepele

Pegiat sejarah dari komunitas Lembang Heritage, Malia Nur Alifa menyatakan bahwa tugu nol kilometer di Lembang yang pertama kali diketahuinya ialah yang berada di Jalan Maribaya. Sewaktu membentuk komunitas Balad Junghuhn yang kemudian diganti menjadi Lembang Heritage pada 2014 lalu, dia mulai menyadari keberadaan tugu nol kilometer tersebut.

"Saya kira di sekitar alun-alun Lembang, tapi ternyata ada di Maribaya itu. Lama-lama, kok di seberangnya juga ada tugu yang sama? Kayaknya tahun 2015 atau 2016. Jadi, tugu (di Jalan Raya Lembang) itu baru. Nah, minggu lalu saya naik angkot, baru sadar kalau ada tugu nol kilometer lagi di Jalan Grand Hotel. Kok ada tiga yah?" katanya.

Dari penuturan sesepuh Lembang, dia menceritakan, di sekitar tugu nol kilometer terakhir yang dia temukan dahulunya dipakai untuk pemakaman.

"Dari Pasar Lembang, Jalan Cijeruk, sampai Puskesmas Lembang itu dulu kuburan, pada 1972 dipindahkan ke Jayagiri. Akhirnya di situ jadi sarana komersial. Pasar Lembang juga kan dulu itu ada di sebelah barat, baru pada 1973 dipindah ke Jalan Panorama," ungkapnya.

Walaupun belum tahu secara pasti sejarah tugu nol kilometer di Lembang, menurut dia, keberadaannya tak bisa dianggap sepele. Apalagi, tugu nol kilometer juga berfungsi sebagai penanda suatu daerah.

Sementara tiga tugu nol kilometer di Lembang rata-rata kondisinya terbengkalai, malah hanya tugu di Jalan Raya Lembang yang dapat terlihat.

"Kan itu sebagai penanda, malah bisa jadi ciri suatu daerah. Minimal, secara estetika semestinya dipelihara. Yang di es kelapa mungkin masih bisa terlihat, tapi yang lain enggak. Yang parah tugu di Jalan Maribaya, pada 2014 itu saya mau foto sampai enggak kuat karena bau pesing. Akhirnya saya enggak jadi foto dan enggak punya fotonya," tuturnya.

Penanda jalan raya

Pemerhati sejarah dari komunitas Heritage Lover, Sri Dianah menyebutkan, di luar konteks sejarah, tugu nol kilometer sebetulnya cuma berfungsi sebagai penanda jalan raya. Dia mengetahui hal itu karena pernah menekuni pendidikan Teknik Sipil di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung.

"Enggak selalu terkait historis. Kalau dari sudut pandang ilmu yang pernah saya pelajari, tugu itu hanya sebagai penanda jalan seperti halnya di jalan tol. Kalau akhirnya ada historisnya, kayak di Bandung, Sabang, atau di Jakarta, itu karena kebetulan tugu itu jadi center pengembangan suatu wilayah," katanya.

Dia menjelaskan, tugu nol kilometer berfungsi layaknya suatu mistar. Titik nol menjadi rujukan untuk menentukan jarak ke wilayah yang lain. "Memang di seluruh dunia juga ada nol kilometernya. Bahkan GMT (Greenwich Mean Time) juga kan ada, yang akhirnya itu menjadi titik nol kilometernya bumi. GMT itu sekalian untuk penanda waktu," katanya.

Tiga tugu nol kilometer yang ada di Lembang, menurut dia, tidak umum terdapat di suatu wilayah. Di daerah lainnya, kata dia, biasanya hanya ada satu tugu nol kilometer.

Walaupun pernah tinggal di Lembang, Dianah tidak mengerti mengapa sampai ada tiga tugu nol kilometer, karena dia mengaku tak menelisik lebih jauh.

"Biasanya cuma ada satu, tapi entah kenapa bisa ada tiga. Mungkin pemerintah bingung center-nya di mana. Namun, pada 1993 itu persis di depan rumah saya di Jalan Maribaya pernah dibangun tugu 1 kilometer. Jadi ya ditariknya dari ujung perempatan Jalan Panorama-Tangkubanperahu itu," kata Daniah, yang tinggal di Lembang pada 1990-1994.