Ad Top

Jalan Asia-Afrika, Pusat Kota Tua Bandung

21/2/2018 by Radja
Bandungpedia
Foto: Radja

Kalau ada anekdot di Kota Bandung tentang nama jalan yang paling panjang sedunia, jawabannya adalah Jalan Asia-Afrika. Sebagai bahan candaan, ke jalan tersebut berarti menempuh benua Asia dan Afrika, yang dipisahkan sebuah sungai.

Nama Jalan Asia-Afrika sejatinya tak hanya berada di Kota Bandung, tetapi juga ada di kota-kota lain di Indonesia. Begitu juga dengan sungai yang melintasinya, Sungai Cikapundung yang bukan sungai terpanjang di Jawa Barat, tetapi Citarum, sungai yang jadi muaranya.

Namun, kepopuleran nama jalan itu memang begitu hebat. Pun cikapundung, sebagai nama salah satu sungai tenar di Kota Kembang. Boleh jadi, siapa saja yang diminta menunjukkan jantung Kota Bandung, mesti telunjuknya mengarah ke ruas Jalan Asia-Afrika.

Arus jalan itu cuma satu arah yang menuju ke Alun-alun Kota Bandung dan Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat. Di atas semua itu, Jalan Asia-Afrika Kota Bandung jadi saksi konferensi yang amat bersejarah, yang mempertemukan 29 negara se-Asia dan Afrika pada 18-24 April 1955.

Konferensi Asia-Afrika pertama tersebut terjadi di Gedung Merdeka yang berada di jalan tersebut. Konferensi membahas isu kedamaian dan kerjasama dunia yang dihadiri oleh delegasi negara se-Asia-Afrika, mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu.

Sedikit mengenai Gedung Merdeka, pada awalnya dibangun menghadap ke jalan terkenal yang satunya di Kota Bandung, yaitu Jalan Braga. Namun, sejak renovasi pada 1921 , Gedung Merdeka praktis menghadap ke Jalan Asia-Afrika saat ini. Gedung Merdeka dulunya bernama gedung Societeit Concordia, tempat berkumpul dan berpestanya lapisan kelas atas Bandung.

Nama Awal Jalan Asia-Afrika

Jalan Asia-Afrika jauh sebelumnya memiliki nama Groote Postweg atau Jalan Raya Pos. Jalan merupakan ruas protokol tertua di Kota Bandung. Nama itu juga mengikuti fungsi dan keberadaan Gedung Raya Pos atau Kantor Pos Besar dari zaman kolonial. Jalan dibangun bersamaan dengan proyek jalan Anyer-Panarukan yang menghubungkan jalur pos antar kota di Pulau Jawa sepanjang 1.000 kilometer.

Pal atau titik 0 Kilometer Bandung juga berada di jalan ini. Titik nol kerap dikaitkan dengan pusat atau awal mula perkembangan kota, di mana pemindahan pemerintahan Bandung yang berada di wilayah Krapyak atau Dayeuh Kolot, dipindahkan ke wilayah ini pada 1810 mengikuti jalan yang sedang dibangun. Juga lokasi dekat dengan Sungai Cikapundung sebagai sumber air pembangunan kota. Di kawasan ini, kini menjamur street show, seperti cosplay, kostum hantu, dll.

Dulu di KM 0 Bandung, Marschalk Herman Willem Daendles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda menancapkan tongkatnya saat melintasi Bandung sewaktu membangun ruas Anyer-Panarukan 1808-1811. Lokasi KM 0 berada di depan Kantor Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Barat,tak jauh dari Hotel Savoy Homann dan Prama Grand Preanger.

Surga Bangunan Tua di Kota Bandung

Mulai dari kawasan simpang lima ke Jalan Asia-Afrika bertaburan gedung-gedung peninggalan kolonial dan boleh dibilang pusat Kota Tua yang ada di Bandung. Pertama, gedung Kantor Pos Besar yang berada di pertigaan Jalan Asia-Afrika dan Jalan Banceuy.  Gaya arsitektur gedung art decomasih terpelihara utuh. Gedung itu mulai dibangun pada 1863 hingga renovasi pada 1928 karya arsitek J van Gendt. Bangunan berfungsi sebagai Posten Telegraf Kantooratau Kantor Pos dan Telegraf.

Kemudian, sebelum Gedung Merdeka ada Kantor PLN atau Gebeo yang merupakan karya Gmelig Meyling. Di deretan mulai dari Kantor PLN hingga pertigaan Jalan Banceuy banyak gedung-gedung tua yang masih terpelihara, seperti Gedung Nedhandel NV, Gedung Jiwasaraya, dan Gedung yang sekarang ditempati oleh Bank Mandiri. Ke arah Jalan Sudirman terdapat toko zaman dulu yang bernama Dezon

Daftar itu masih ditambah dengan bangunan megah bekas toko serba ada, Toko de Vries. Sekarang dimiliki oleh Bank OCBC NISP. Lalu ada Hotel Prama Grand Preanger, Savoy Homann Bidakara Hotel yang menjadi tempat menginapnya anggota delegasi KAA 1955, dan di simpang lima dekat belokan Jalan Karapitan ke Jalan Asia-Afrika ada gedung Singer dan bekas apotik De Voor Zorg.