Ad Top

Mahasiswa Unpad Merasa Dibohongi Rudiantara

29/3/2019 by Radja
Umum
Foto: Radja

Kisruh Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Padjadjaran (Unpad) kian menjadi-jadi. Terlebih, rencana Majelis Wali Amanat (MWA) menggelar Pilrek Unpad periode 2019-2024 pada Jumat (29/3), kembali meleset.

Kondisi itu memaksa sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM Kema) Unpad menggelar aksi di Sekretariat Majelis Wali Amanat (MWA) Jalan Cimandiri, Kota Bandung, Jumat (29/3). Mereka menuntut agar MWA mematuhi jadwal pemilihan rektor yang sudah disepakati. Mereka meminta agar Ketua MWA segera hadir memimpin rapat pleno Pilrek Unpad periode 2019-2024.

Para mahasiswa ini membentangkan poster dan spanduk serta berorasi di halaman Sekretariat MWA Unpad, Jalan Cimandiri, Kota Bandung. Salah satu spanduknya itu tertulis 'Tuntaskan! Pemilihan Rektor, Rudiantara Gagal Jadi Ketua MWA'.  Mereka pun menolak adanya pelaksana tugas rektor jika MWA gagal memilih rektor sampai dengan habis masa jabatan Tri Hanggono Achmad sebagai rektor pada 12 April 2019.

Perwakilan mahasiswa Siti Nurohmatiljanah mengatakan, MWA seharusnya konsisten pada jadwal yang sudah ditetapkan. "Ini sudah empat kali mundur, tidak jadi pemilihan," katanya.

Ketua BEM Kema Unpad Imam Syahid mengatakan pihaknya mempertanyakan ketegasan Rudiantara yang tak kunjung menggelar pemilihan rektor. Banyak pihak yang merasa dibohongi MWA.

"Kita semua hari ini (kemarin, red) merasa dibohongi Ketua MWA (Rudiantara). Kualitas beliau kita pertanyakan, tidak ada ketegasan sama sekali," kata Imam dalam orasinya di kantor MWA Unpad.

Menurutnya, Rudiantara punya otoritas penuh untuk menggelar Pilrek Unpad terlepas berbagai polemik mewarnai proses seleksi calon. Tapi, Rudiantara terkesan membiarkan proses Pilrek Unpad berlarut-larut.

"Padahal punya otoritas dan kewenangan menyelesaikan, tapi memilih diam," tutur anggota MWA perwakilan mahasiswa Unpad ini.

Dia menilai Rudiantara gagal menjadi Ketua MWA Unpad. Pihaknya juga mendesak Rudiantara mundur usai menyelesaikan tugasnya melaksanakan Pilrek Unpad.

"Kita ingin Pilrek Unpad digelar hari ini (kemarin, red). Rudiantara harus segera menyelesaikan tugasnya, lalu mundur dari ketua MWA," ucap dia.

Gelar dialog

Seharusnya MWA menggelar rapat pleno untuk memilih rektor kemarin. Namun, rencana itu batal. Ketua MWA Rudiantara tak mengundang anggota MWA untuk berkumpul kembali setelah menggelar pleno di Jakarta pada Jumat (22/3), yang hanya dihadiri sebagian anggota saja.

Meski begitu, beberapa anggota MWA kemarin hadir untuk berdialog dengan mahasiswa. Anggota MWA yang hadir antara lain Erri Megantara, Iwan Abdurachman, Yudi Guntara, Oekan Soekotjo Abdullah, Himat Kurnia, dan Dudi Aripin.

"Kami di sini sebagai pribadi, bukan MWA. Kami dengar mahasiswa akan ke sini, maka kami ke sini," kata Guntara.

Pada kesempatan dialog itu, mahasiswa meminta agar anggota MWA yang hadir mau menandatangani kesepakatan dengan mahasiswa yang isinya berkomitmen menuntaskan Pemilihan Rektor Unpad sebelum 12 April.

Atas usulan itu, Oekan mengatakan, tanpa tanda tangan itu, komitmen mereka tak perlu diragukan. Itu sebabnya mereka hadir untuk bertemu mahasiswa.

"Keprihatinan teman-teman semua ini keprihatinan kita semua, makanya kita ada di sini. Saya merasa ini kesempatan membuktikan bahwa kita berkomitmen. Saya pasti berkomitmen," tuturnya.

Oekan justru menyarankan mahasiswa mengumpulkan dukungan dari mahasiswa untuk bisa disampaikan ke MWA. Dukungan akan berarti sebagai masukan MWA seperti yang dilakukan oleh para guru besar dan dosen.

Pada kesempatan itu, Yudi pun menyatakan, akan membuat surat pernyataan secara pribadi untuk mendesak agar MWA segera menuntaskan Pilrek. Yudi juga akan mengajak bicara anggota MWA lain untuk mau bersama-sama menuntaskan cara ini. 

"Saya akan gunakan cara urang Sunda," ujar Yudi yang mewakili unsur masyarakat di MWA.

Sementata Iwan mengatakan, anggota MWA sudah memahami betul persoalan Pilrek Unpad ini. Sayangnya, MWA terkunci peraturan MWA yang menyebut hanya ketua yang bisa mengundang rapat pleno.

Iwan menegaskan komitmennya mendesak rapat pleno harus segera digelar sebelum 12 April.

"Gara-gara satu dianggap tidak cakap, jadi menjagokan calon masing-masing. Yang terjadi sekarang sesederhana itu," katanya. 

Surat terbuka

Terkatung-katungnya selama  tiga bulan membuat para akademisi dan guru besar meminta Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) dan MWA segera menyelesaikan sengkarut Pilrek Unpad ini. Hal itu diungkapkannya melalui surat terbuka.

"Menyerukan kepada Majelis Wali Amanat (MWA) Unpad agar persoalan Menristekdikti dan beberapa anggota MWA yang mempermasalahkan salah satu calon rektor, janganlah sampai menjadikan MWA Unpad, civitas academica, dan tenaga kependidikan tersandera dalam ketidakpastian. Karena hal ini sangat mengganggu kami secara psikis dalam menjalankan tugas di Unpad," demikian surat terbuka kepada Menristekdikti, Jumat (29/3).

Surat terbuka itu dibenarkan oleh seorang guru besar hukum tata negara Unpad, Prof Susi Dwi Harijanti. Hingga kemarin pagi, 50 orang akademisi/guru besar sudah menandatangani petisi surat terbuka tersebut.

Terkatung-katungnya Pilrek Unpad bermula saat MWA meloloskan 3 nama, yaitu Aldrin Herwany (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Atip Latipulhayat (Fakultas Hukum), serta Obsatar Sinaga (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). 

Belakangan, Menristekdikti M Nasir memberhentikan sementara Osbtar sebagai PNS. Atas hal itu, Menristekdikti berdalih belum bisa menentukan rektor karena calonnya hanya dua. Belakangan, Komisi Aparatur Sipil Negara (KSN) memerintahkan mencabut surat pemberhentian sementara itu.

"Kami memandang dalam penerbitan keputusan tersebut, Menristekdikti tidak berwenang. Keputusan Menristekdikti tersebut harus dianggap batal demi hukum, karena diterbitkan bukan atas dasar kewenangannya," ujar Susi.

Dalam surat itu, mereka meminta Menristekdikti segera memilih rektor sebagaimana usulan MWA Unpad. "Kami menyerahkan sepenuhnya kepada MWA Unpad yang memiliki hak suara, termasuk Menristekdikti untuk memilih yang terbaik dari 3 calon rektor Unpad, agar kampus tercinta ini lekas memiliki pemimpin baru yang dapat memperbaiki Unpad ke arah yang lebih baik," terangnya.