Ad Top

Arus Impor Meresahkan Pelaku UMKM, Produk Lokal Butuh Proteksi

10/12/2019 by Radja
Umum
Foto: Radja

DERASNYA aliran produk impor masuk ke pasar dalam negeri sangat meresahkan para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) khusunya di wilayah Jawa Barat (Jabar).

Ironisnya, pada saat bersamaan pelaku usaha indonesia dengan skala UMKM harus berhadapan dengan beban upah minimum kota/kabupaten (UMK) yang semakin besar. Hal itu membuat beban usaha kian besar. Bagi pelaku UMKM, dengan mereka menambah beban usaha semakin besar, mereka juga dihadapkan dengan daya saing produk yang semakin merosot.

Para pelaku UMKM meminta agar pemerintah meningkatkan dan mengutamakan proteksi produk lokal, karena kian hari teknologi di Indonesia semakin meningkat. Para calon konsumen pun bisa dengan mudah mendapatkan produk impor dengan murah melalui marketplace, bahkan bisa didapat dengan promo gratis ongkir.

Menurut Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Jawa Barat, bukan hanya TPT, industri makanan minuman, kerajinan, perlengkapan rumah tangga, dan mainan anak-anak juga terkena dampaknya. Produk-produk tersebut semakin gencar masuk ke Indonesia.

Ketua Umum DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) Suryani Sidiq Motiq menegaskan bahwa harus ada proteksi dari pemerintah pusat atau daerah terhadap produk lokal yang diproduksi oleh pengusaha dalam negeri agar tidak tergerus oleh gempuran produk impor.

"Harus ada proteksi terhadap produk-produk lokal, kan kemarin Pak Presiden Jokowi mulai teriak. Soal cangkul (impor) kita bisa bikin, kenapa harus impor. Itu hanya bisa kalau e-procurement-nya (di LKPP) di perbaiki," kata Suryani Sidiq Motiq di Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (9/12/2019). 

Indonesia memiliki banyak produk lokal yang bisa dibuat sendiri. Contohnya saja produk kopi yang sekarang sedang diminati oleh banyak orang dikalangan milenial. Produk kopi Indonesia jauh lebih enak dan kualitasnya lebih baik dibanding dengan produk impor.

Di tengah era moderenisasi seperti sekarang, produk lokal harus bisa bersaing dengan produk impor dan pelaku UMKM harus percaya dengan produk lokalnya sendiri bahwa produk mereka lebih baik daripada produk hasil impor.

Produk lokal harus terus berinovasi terhadap produknya, di tengah terjadinya perang dagang dengan barang impor. Pemerintah daerah juga harus konsisten dalam menghadirkan situasi bisnis yang kondusif, contohnya dengan menerbitkan regulasi yang mendukung.