Ad Top

Kain Tenun Junti Indramayu Butuh Gerenarasi Baru

11/12/2019 by Radja
Umum
Foto: Radja

KAIN tenun junti merupakan satu-satunya kain tenun khas Indramayu. Salah seorang perajin yang hingga kini masih eksis adalah Sunari.

Ia merupakan generasi ketiga dari perajin tenun junti. Sayangnya, sampai saat ini, belum ada generasi penerus yang mau melanjutkan kerajinan tenun khas Indramayu tersebut.

Sejatinya, kain tenun junti adalah ciri khas Indramayu yang memiliki beragam motif. Selain motif babaran, ada juga motif suwugan, gunugan, dan biasaan. Oleh Sunari, helai kain tenun motif babaran bisa diselesaikan dalam sepekan, itu pun jika ada waktu luang.

Berbekal alat yang dinamakan pon, apit, sisiran, wora, dan teropong yang berusia lebih dari 100 tahun, Sunari seringkali menerima orderan membuat kain tenun berupa sarung, selendang maupun kain tejun lainnya.

Satu helain kain tenun junti motif babaran dijual seharga antara Rp 100 ribu hingga Rp 350 ribu, tergantung motif dan lama pengerjaan.

Diceritakan, dahulu saat masih banyak penenun kain tenun gedongan di Desa Juntikebon. Banyak pelancong pula yang datang ke Indramayu untuk membeli kain gedongan khas Juntikebon sebagai buah tangan. 

Mereka datang dari berbagai daerah. Bahkan, tak sedikit juga turis asing yang mampir untuk berbelanja kain gedongan di Desa Juntikebon.

"Orang Belanda dulu pernah ke rumah emak, beli kain. Rambutnya pirang, turis dari Belanda kata orang-orang," ucap dia.

Berbeda dengan sekarang ini, penenun kain gedongan semakin sulit ditemui, demikian juga para pembeli.

Dalam sebulan, ia tidak bisa memastikan jumlah penjualan kain gedongan khas Juntikebon. Tidak jarang juga dalam satu bulan tidak ada yang membeli kain buatannya.

Dirinya berharap, kain tenun gedongan khas Desa Juntikebon bisa dikenal kembali oleh khalayak luas.

Ia juga berkeinginan, kain tenun gedongan buatannya bisa terpajang di pusat-pusat penjualan kain agar lebih dapat dikenal.

"Inginnya ya dikenal tapi kalau tidak laku juga paling sama emak disimpan dirawatin," ujar dia.