Ad Top

Menteri Pertanian: Kita Impor, Berarti Bangsa Kita Lemah

17/12/2019 by Radja
Umum
Foto: Radja

PEMERINTAH bertekad menambah ekspor produk pertanian dan mengurangi impor. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut ekspor sebagai suatu kebanggaan sedangkan impor justru menandakan kelemahan bangsa dan negaranya.

"Melakukan ekspor itu adalah bagian dari derajat kebangsaan kita. Kalau kita impor itu artinya kita lemah, berarti bangsa kita lemah. Boleh impor, tapi harus lebih banyak eskpor. Itulah jati diri bangsa kita," katanya.

Hal itu disampaikannya saat pelepasan ekspor benih hortikultura dari produsen benih PT East West Seed Indonesia di Kabupaten Purwakarta. "Kita bisa menjadi bagian-bagian yang berkontribusi untuk dunia. Ke depan harus tiga kali lipat dari sekarang," kata Syahrul, Senin (16/12/2019), dalam keterangan persnya, Selasa (17/12/2019).

Menurutnya, ekspor produk-produk pertanian itu untuk membuktikan kekuatan pertanian Indonesia. Hal itu telah teruji dalam berbagai penelitian. Termasuk, menurut Badan Pusat Statistik yang menyebutkan sektor pertanian berperan penting dalam menggerakkan perekonomian nasional.

Data BPS mencatat produk domestik bruto sektor pertanian pada triwulan kedua 2019 meningkat 5,41 persen. Pertumbuhan tersebut diklaim lebih besar dibandingkan triwulan yang sama selama dua tahun berturut-turut di kisaran 3-5,01 persen.

Sedangkan dari subsektor hortikultura diakui menjadi salah satu penyumbang terbesar untuk PDB sektor pertanian sebanyak 6,11 persen. "Bahwa, kita bicara ekspor itu adalah suatu yang menjanjikan (untuk hari) esok untuk negeri," kata Syahrul menegaskan potensinya.

Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah dipastikan akan terus mendorong ekspor produk pertanian yang dilakukan oleh siapapun. Seperti halnya, benih yang diproduksi perusahaan terkait di Kabupaten Purwakarta.

Syahrul menilai kualitas benih produksi dalam negeri tak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Karena itu, jumlah benih yang diekspor satu perusahaan itu saja mencapai nilai Rp 48 miliar selama 2019.

Direktur Pengelola PT Ewindo, Glenn Pardede menyebutkan nilai ekspor benih yang dilakukan pada akhir tahun ini mencapai Rp 10 miliar di antaranya. "Tahun 2020 kami menargetkan ekspor senilai Rp50 miliar sehingga totalnya menjadi Rp98 miliar (ditambah tahun ini)," katanya seusai menerima menteri.

Benih berbagai tanaman hortikultura itu diekspor ke sejumlah negara di Asia seperti India, Jepang, Hongkong, Srilangka, Banglades dan Pakistan. Ekspor juga dilakukan ke negara Asia Tenggara mulai dari Thailand, Filipina, Malaysia, Myanmar dan Vietnam.

Salah satu komoditas ekspor yang berpotensi ialah labu varietas Kusuma F1 hasil pemuliaan di Indonesia. Benih tanaman tersebut diekspor sebanyak 20 ton pada pengiriman kali ini.

Sementara itu, menurut Direktur Perbenihan Hortikultura, Sukarman, penambahan jumlah benih yang diekspor minimal hingga tiga kali lipat pada 2024 mendatang. "Ekspor itu tidak ada targetnya, yang penting sebanyak-banyaknya," kata dia.

Peningkatan ekspor diakui akan menambah devisa negara. Upaya tersebut diikuti dengan pengurangan impor untuk menghemat devisa. Selain itu, ekspor juga memiliki nilai tambah bagi para petani lokal yang bekerja sama dengan perusahaan benih.