Ad Top

Terancam Tutup, Tempat Wisata The Great Asia Africa Langgar Tiga Aturan

7/2/2020 by Radja
Umum
Foto: Radja

SETELAH diresmikan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil, Ahad (8/12/2020), objek wisata The Great Asia Africa di Lembang, Kab. Bandung Barat (KBB) malah direkomendasikan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Jabar untuk tutup sementara. Pasalnya, destinasi wisata di wilayah Bandung utara tersebut melanggar tiga aturan.

Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jabar, Bobby Subroto mengatakan rekomendasi ini lahir usai pihaknya melakukan kunjungan ke lokasi wisata baru tersebut. Disebutkan, The Great Asia Africa Lembang melanggar tiga aturan yang ditetapkan Dinas BMPR Jabar yakni tata letak bangunan objek wisata tersebut berada di kawasan sempadan sungai.

"Dia itu ada di dalamnya, harusnya itu tidak boleh kan. Kami itu di dalam rekomendasi itu dilarang dan itu ada di L1 (Kawasan Bandung Utara Zona L1 yakni kawasan lindung, sempadan sungai), kami sudah sampaikan ke teman-teman di Pemkab Bandung Barat tolong itu diperhatikan," katanya, Jumat (7/2/2020).

Zona L-1 ini pun meliputi Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, TWA Tangkuban Parahu, Cagar Alam Tangkuban Parahu, kawasan Observatorium Bosscha, koridor 250 meter kiri kanan Sesar Lembang, Kawasan Rawan Bencana III Gunung Api Tangkuban Parahu, hutan produksi, dan ruang terbuka hijau.

L-1 ini menjadi daerah kawasan lindung atau zona kawasan khusus dan mempunyai risiko bencana tinggi. Zona dengan luas 17.107,93 hektare ini memiliki luas lahan yang terbangun mencapai 7,26 persen. Karenanya, kawasan ini punya peraturan yang ketat dalam hal tata ruang dan pembangunan.

Pelanggaran pihak pengelola yang lain adalah tidak tersedianya bangunan atau lahan untuk parkir kendaraan sehingga keberadaan kawasan objek wisata tersebut sering membuat kemacetan, khususnya saat akhir pekan atau libur panjang. "Kami merekomendasikan lahan parkir dan itu tidak tersedia," ujarnya.

Pelanggaran ketiga adalah The Great Asia Africa Lembang adalah peletakan bangunan di kemiringan elevasi di atas 30 persen. "Seharusnya pembangunan atau bangunan tidak semasif itu kalau menurut hemat kami. Harus disesuaikan lagi. Kemudian juga ketinggian bangunan, karena kalau kita identifikasi ada di ketinggian 1.000 mdpl harusnya bangunan tidak boleh lebih dari tiga lantai," papar Bobby.

Pihaknya menyampaikan untuk solusi jangka pendek terkait pelanggaran tersebut ialah harus dilakukan semacam kegiatan penutupan sementara. "Ya harus karena kalau tidak dilakukan, dengan cuaca seperti sekarang dan dengan bangunan-bangunan yang ada, di bawahnya bisa tergelincir, air bah. Kita enggak tahu soal fenomena alam makanya kami sudah minta untuk segera dilakukan penutupan operasional,” pungkasnya.

Kepala DBMPR Jabar, A Koswara mengatakan The Great Asia Africa memang didirikan di lahan yang bisa dimanfaatkan untuk pariwisata. Hanya saja, pembangunan berbagai sarana dan prasarana di kawasan tersebut belum memenuhi peraturan mengenai KBU (Kawasan Bandung Utara). Hal yang paling terasa, katanya, adalah kemacetan lalu lintas di Jalan Raya Bandung-Lembang.

"Mereka tidak siapkan parkir, Amdal Lalin belum siap, tapi sudah operasional. Caranya salah. Makanya kami rapat dengan KBB untuk menertibkan itu. Seharusnya sebelum operasional buatkan jalur lambatnya dulu, buat jembatan penyeberangan orang, supaya yang menyeberang tertib," katanya.

Ia pun menilai pengelola The Great Asia Africa terlalu buru-buru mengoperasikan kawasan wisata komersial tersebut. "Ini persoalan, (pengelola) ini pengen buru-buru jual tiket dan viral," kata dia

Saat meresmikan The Great Asia Africa, Ahad (18/12), Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengaku pernah bercita-cita untuk membangun tempat wisata yang menampilkan negara-negara di Asia Africa karena Kota Bandung telah memiliki museum konferensi tersebut.

“Inikan salah satu kebaruan wisata yang ada di Jawa Barat, pokoknya Jabar juara pariwisata,” kata pria yang akrab disapa Emil ini.

Dalam kesempatan itu, pemilik The Great Asia Africa, Perry Tristianto menjelaskan, konsep yang dibuat untuk saat ini baru ada tujuh negara dari dua benua. Kemungkinan besar negara negara lain akan ditambah di The Great Asia Africa. “Proses pembuatan tempat wisata tersebut menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 tahun,”ujarnya.