Ad Top

UMKM di Persimpangan Jalan: Andalkan Jualan Online atau Banting Setir

29/3/2020 by Radja
Umum
Foto: Radja

OMZET sejumlah pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) anjlok signifikan akibat penyebaran Covid-19. Saat ini sebagian diantara mereka mengandalkan penjualan online dan sebagian lainnya bating setir menjalankan bisnis baru untuk mempertahankan cashflow usahanya.

Anggia Eliza, salah satu pemilik brand fesyen busana muslim di Bandung mengatakan, saat ini omzet usahanya anjlok signifikan. Padahal, menjelang Ramadan biasanya menjadi saat-saat dimana permintaan menghangat dan mencapai puncaknya selama Ramadan.

"Sejak jumlah kasus Covid-19 meningkat, penjualan sudah mulai sepi. Apalagi sekarang toko-toko dan mall-mall tutup. Gerai offline saya juga terpaksa ikut tutup," katanya, di Bandung, Sabtu (28/3/2020).

Akibatnya, ia hanya bisa mengandalkan pemasaran online. Itu pun ia rasakan cukup berat karena permintaan secara online juga anjlok hingga mencapai 50% dibandingkan hari normal.

Sekarang saya tidak muluk-muluk, hanya bisa berdoa mudah-mudahan bisa membayar gaji hampir 70 pekerja dan memberi mereka THR seperti tahun-tahun sebelumnya," tutur Anggia.

Strategi yang ia tempuh adalah meningkatkan program pemasaran online. Bahkan, ia juga membuat program potongan harga untuk menarik minat calon konsumen.

Lain Anggia, lain Cucu Sumiati. Pemilik usaha catering sekolah dan bed sheet ini Bubu Kaka ini memilih untuk banting stir memproduksi masker kain. Kian langkanya masker sekali pakai membuat permintaan masker kain melonjak signifikan.

"Sejak belajar di rumah, otomatis caterings ekolah berhenti. Permintaan bedsheet juga turun," tuturnya.

Awalnya, ia mengaku tidak terpikir untuk bisnis masker kain. Karena banyaknya waktu luang dan banyaknya stom kain perca, ia membuat masker untuk dibagikan gratos kepada saudara, tetangga, dan rekannya.

Akan tetapi, karena makin hari kebutuhan masker kain semakin besar, ia pun mulai membuka pesanan pembuatan masker kain. Ia menjual produknya dengan harga sangat murah, Rp 3.500 per pcs.

"Karena masih dikerjakan sendiri, dalam sehari saya membatasi kapasitas produksi, hanya 50 pcs. Permintaan ada dari dokter yang membuka praktek untuk dibagikan kepada pasiennya, perusahaan swasta, BUMN, dll," tuturnya.

Bahkan, ia mengaku kewalahan untuk memenuhi permintaan masker kain yang terus meningkat. Umumnya konsumen membeli untuk dipakai sendiri, atau untuk dibagikan kepada pegawai, keluarga, dan konsumen (pasien).

Owner @bandarikanid, Atika Nurliawati, juga mengakui anjloknya permintaan alibat Covid-19. Apalagi, saat ini sejumlah resto dan hotel banyak yang berhenti beroperasi, masyarakat juga mulai takut untuk berbelanja ke pasar.

"Sekarang resto sama hotel stop dulu. Biasanya satu hotel bisa pesan minimal 11 kg. Saya juga ada lapak di pasar ikan Soreang dan TKI. Biasanya per lapak bisa kejual 15-20 kg per hari," ujarnya.

Untum menyiasati kondisi tersebut, ia mengaku saat inj sedang mengejar penjualan online. Jika permintaan sedang ramai, biasanya penjualan online bisa lebih dari 20 kg per hari. 

Untuk meminimalkan risiko Covid-19, ia mengaku benar-benar memperhatikan sanitasi kendaraan operasional dan pengantaran. Bukan hanya menyediakan antiseptik dan hand sanitizer di mobil pengantaran, tim yang mengantar pesanan jiga dilengkapi dengan alat perlindungan diri, seperti masker, handgloves, pelindung kepala, bahkan kacamata.

"Dari sisi transaksi, kami juga menggunakan nontunai dan dalam pengiriman juga kita biasanya ga touching ke buyernya langsung, tapi mengikuti kaidah distancing, misalnya hanya disimpan di teras rumah," tutur Tika.

Anjloknya omzet memang menimpa hampir semua pelaku UMKM. Bahkan, banya pelaku usaha mikro, seperti penjuakan makanan, begitu juga dengan ojeg online yang kesulitan mendapatkan konsumen walaupun sudah beroperasi sejak pagi hari.

Wakil Ketua Kadin Kota Bandung Bidang Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Kemitraan, Bambang Tris Bintoro (Bin) mengatakan bahwa 30%-40% usaha mikro terancam dengan kian meluasnya wabah Covid-19. Saat ini, menurut dia, banyak pelaku usaha mikro yang omzetnya anjlok hingga 70%, bahkan lebih.