Ad Top

Omzet UMKM Fesyen Anjlok Hingga 70 persen, Kadin Kota Bandung Tawarkan Solusi Seperti Ini

3/4/2020 by Radja
Umum
Foto: Radja

USAHA mikro kecil menengah (UMKM) fesyen dan makanan menjadi sektor yang paling terpuruk akibat kian meluasnya penyebaran Covid-19 atau virus Corona. Sebagian besar mengalami penurunan omzet hingga 60-70 persen.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua Kadin Kota Bandung Bidang Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Kemitraan, Bambang Tris Bintoro, di Bandung, Jumat (3/4/2020). 

Solusi yang bisa ditempuh untuk UMKM fesyen, khususnya yang bergerak di sektor produksi, menurut dia, untuk sementara, bisa diarahkan untuk membuat masker dan alat pelindung diri (APD).

"Teknisnya bisa dikoordinir oleh koperasi sentra," ujarnya.

Pertimbangannya, menurut Bambang, saat ini masker dan APD memiliki pasar yang jelas, bukan hanya di dalam tapi juga luar negeri. Untuk menjamin standar mutu, ia meminta agar pemerintah menggandeng Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk memberikan bimbingan langsung dan melakukan sertifikasi super cepat.

"Dengan demikian, produk yang dihasilkan sudah langsung memenuhi SNI (standar nasional Indonesia) dan bisa dipasarkan secara luas, hingga ke luar negeri," ujarnya.

Sementara pemerintah, menurut dia, harus berperan dalam membantu subsidi harga bahan baku dan memberikan insentif bagi importir bahan baku tersebut. Ia mengatakan, impor bahan baku menjadi solusi yang harus ditempuh karena di dalam negeri sulit ditemukan bahan baku yang sesuai dengan standar kesehatan.

"Pemerintah bisa menggandeng investor dan pengusaha besar untuk menjadi importir bahan baku yang memenuhi standar kesehatan," tutur Bambang.

Sementara itu, untuk sektor makanan, khususnya makanan olahan, dikatakan Bambang, tugas pemerintah adalah membukakan akses pasar. Pemerintah harus bisa memaksa supermarket dan minimatket menyediakan space khusus bagi produk UMKM di setiap gerainya.

"Supermarket dan minimarket di Indonesia jumlahnya ribuan. Ini bisa menjadi solusi bagi UMKM makanan," ujarnya.

Apalagi, menurut dia, selama pandemi Covid-19 ini supermarket dan minimarket menjadi tumpuan masyarakat Indonesia untuk belanja. Omzet mereka pun dinilai Bambang melonjak signifikan.

"Sayangnya, yang mereka jual didominasi produk dari perusahaan besar," tuturnya.

Ia mengatakan, secara umum pemerintah harus memberikan insentif bagi semua pelaku UMKM. Misalnya dalam bentuk potongan tarif khusus bagi UMKM yang umumnya berlangganan listrik dengan daya di atas 900 Volt Ampere (VA).

"Secara umum, langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan baku," katanya.

Pemerintah juga harus mendorong UMKM untuk merambah pasar online. Hal yang tak kalah pentingnya, menurut dia, adalah membuat promosi masif untuk mendorong masyarakat berbelanja produk UMKM, dengan tagline "save UMKM".