Ad Top

Peternak Ayam Rakyat Terancam Kolaps

5/4/2020 by Radja
Umum
Foto: Radja

PETERNAK ayam skala rakyat terancam kolaps  menyusul anjloknya harga komoditas ayam ditingkat peternak. Saat ini harga ayam di kandang hanya berada dikisaran Rp 5.000-8.000/kg atau sangat jauh dari harga pokok produksi yang berkisar Rp 18.000-19.000/kg.

Perwakilan Kumpulan peternak ayam Agro Makmur Farm Deki Neriawan mengatakan kondisi yang dialami  peternak ayam skala rakyat berbanding terbalik dengan situasi yang terjadi dipasar. Pasalnya, berdasarkan survei   yang dilakukan pada 3 April lalu harga daging ayam justru stabil diangka Rp 30.000-35.000/kg. 

Padahal, jika mengacu pada harga di pasar maka harga daging ayam ditingkat peternak mestinya stabil diangka Rp 20.000-22.000/kg. Kemudian juga menggunakan harga dipeternak yang tengah anjlok sebagai dasar perhitungan maka ditambah dengan angka penyusutan dan biaya transportasi mestinya harga dipasar hanya diangka Rp 15.000-17.000/kg. 

“Ini anomali, menjadi pertanyaan apa yang sebetulnya terjadi. Siapa yang bermain karena rantai distribusi dari ayam hidup sampai konsumsi panjang. Banyak peluang yang memanfaatkan situasi ini,” katanya, Ahad (5/4/2020).

Situasi tersebut diungkapkan Deki cukup  memberikan tekanan kepada para petenak ayam skala rakyat. Dikhawatirkan jika kondisi tersebut terus dibiarkan berlanjut hingga dua pekan mendatang, maka tidak menutup kemungkinan banyak peternak rakyat yang gulung tikar dan menyebabkan terjadi gelombang PHK.

“Sejak dua minggu lalu harga mulai jatuh, kerugian peternak sudah menyentuh angka triliun rupiah. Jika ditambah sampai dua minggu kedepan bisa 80% peternak akan kolaps. Kalau dikalkulasikan ada sekitar 12 juta orang yang hidup di sektor tersebut,” ujarnya. 

Disinggung mengenai penyebab anjloknya harga komoditas ayam di tingkat petani, menurut Deki ada beberapa faktor. Diantaranya suplai yang berlebih, turunnya permintaan ditengah pandemi Covid-19, faktor cuaca dan produksi yang kurang bagus.

“Ada kemungkinan peternak panic selling dan menjual terburu-buru sehingga memungkinkan harga dibanting serendah-rendahnya. Ditambah lagi daya tawar peternak terhadap broker lemah. Hal itu dipengaruhi kekurangkompakan dipeternak  ayam rakyat cukup mudah ditekan broker,” ujarnya. 

Deki  menambahkan faktor lainnya juga tidak menutup kemungkinan adanya sejumlah oknum yang mencoba memanfaatkan situasi pandemi saat in untuk meraup untung yang sebesar-besarnya. Mengingat mata rantai produksi dari komoditas ini sangat panjang.