Ad Top

Industri Batik Nasional Diprediksi Bangkit Kembali Awal Tahun Depan

7/5/2020 by Radja
Umum
Foto: Radja

PEMULIHAN industri batik di Jawa Barat membutuhkan waktu maksimal enam bulan untuk kembali normal. Dengan catatan apabila pandemi Covid-19 berakhir pada Juni atau Juli mendatang. 

"Ya, kemungkinan awal tahun depan industri batik nasional bisa kembali berjalan normal. Itu pun dengan catatan, apabila tidak ada chaos pada masa pandemi Covid-19," ungkap Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APBBI), Komarudin Kudiya yang ditemui di Rumah Batik Komar Bandung, Kamis (7/5/2020).

Menurut Komarudin, semua industri di Indonesia termasuk industri batik mengalami kolaps akibat pandemi Covid-19 sejak awal Maret lalu. "Walaupun baru beberapa bulan, kondisi sekarang jauh lebih berat ketimbang krisis moneter tahun 1998 lalu," katanya.

Berbagai cara telah dilakukan para perajin dan pengusaha batik untuk mempertahankan eksistensinya. Terutama Ramadan dan Lebaran merupakan momen yang ditunggu oleh para pengusaha dan perajin batik. Namun pada tahun ini momen tersebut buyar akibat Covid-19.

"Banyak pengusaha dan perajin yang sudah melakukan stok jauh-jauh hari sebelum ramadan. Namun hingga sekarang stok tersebut belum bisa terjual karena pandemi Covid-19. Kami sangat mengandalkan pameran-pameran. Namun tahun ini tidak bisa dilaksanakan karena ditunda maupun dibatalkan. Ya, para perajin dan pengusaha rugi besar pada tahun ini," jelasnya.

Beruntung bagi Komarudin yang bisa menggelar Virtual Batik Expo (VBE) di Workshop Batik Komar, Cigadung Bandung yang dibuka sejak 22 April lalu. 

Dikatakan Komarudin, dari hasil evaluasi selama 10 hari VBE penjualan masih kurang signifikan, transaksi yang dihasilkan hanya 5 konsumen dengan nilai kurang dari Rp 20 juta (sekitar 15 potong kain batik). 

"Bila dibandingkan dengan pameran yang offline atau penjualan di showroom batik di musim mendekati lebaran ini berarti hanya mencapai  2%. Hal ini dikarenakan pameran virtual batik, kemungkinan belum terlalu dikenal oleh sebagian besar konsumen batik," ujarnya. 

Menurut Komarudin, konsumen lebih senang dengan melihat langsung sekaligus dapat merasakan kehalusan kain, keindahan motif dan warnanya. Serta dapat melihat koleksi-koleksi lainnya. Pameran offline sudah pasti akan mendapatkan rasa kenyaman yang lebih bila dibandingkan dengan Virtual Batik Expo. 

"Namun kondisinya akan berbeda, bila jenis kain, kualitas dan harga batiknya yang lebih murah, dengan range harga Rp100.000 sampai Rp300.000, kemungkinan konsumen tidak harus datang ke lokasi atau showroom," tambahnya.

Dikatakannya pula, follower yang memberikan komentar bagus dan kreatif di IG Batik Komar. Puluhan ribu orang, namun mereka hanya memberikan ikon jempol, dan hanya sebagian kecil yang bertanya-tanya tentang pameran batiknya.

Diakuinya tidak banyak terjadinya transaksi dari hasil pameran VBE ini. Setelah dilakukan komunikasi dengan konsumen banyak yang mengatakan, "Tahun ini kami tidak memakai baju lebaran. Kita tidak berlebaran dan tidak menerima tamu atau bertamu. Kami cukup di rumah saja (social distancing) dan PSBB. Sehingga nggak perlu beli baju lebaran," ungkapnya.

"Baik-batik yang kami pamerkan adalah batik-batik dengan kualitas prima, bahan baku sutera tenun dan katun primissima yang halus, dengan desain menarik serta setiap potong batik memiliki nilai estetis yang cukup beragam dengan harga berkisar Rp1 juta - Rp10 juta. Mungkin itu salah satu alasannya penjualan batik mengalami lesu," jelasnya.