Ad Top

Hadapi New Normal, Perajin Batik Harus Kembangkan Inovasi

11/6/2020 by Radja
Bandung
Foto: Radja

MENGHADAPI new normal, Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APBBI) meminta seluruh perajin batik untuk bersiap-siap. Para perajin pun harus menciptakan dan mengembangkan inovasi-inovasi batik yang berkembang saat ini.

"Kalau pemasaran dan penjualan tetap menggunakan online (wajib, red), para perajin harus mau belajar marketing secara online termasuk IKM. Secara umum, kita (para pembatik dalam APPBI) sudah siap menghadapi kehidupan baru atau new normal," ungkap Ketua APPBI yang juga pengusaha Rumah Batik Komar, Komarudin Kudya yang ditemui di kediamannya, Jln. Cigadung, Bandung, Kamis (11/6/2020).

Menurut Komarudin, seluruh galeri dan showroom batik yang ada di Jabar sudah siap menghadapi new normal dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Diharapkan, para pengusaha dan perajin batik menyediakan batik-batik yang spesial atau memberikan diskon saat new normal diberlakukan.

"Pemberian diskon ini yang penting HPP tertutup, dan produk-produk yang dijual tidak terlalu mahal. Karena pada masa pandemi Covid-19 sekarang ini, masyarakat lebih senang menyimpan (save, red) uang secara aman untuk pangan dan kesehatan, sehingga kebutuhan sandang kurang menjadi perhatian," terangnya.

Selain itu, lanjutnya, produk-produk batik yang ditawarkan harus sesuai dengan kebutuhan saat ini, seperti masker batik maupun sajadah batik. Menurutnya, batik masker saat ini  sudah menjadi kebutuhan sekaligus fesyen.

"Bahkan saat ini, sudah ada masker yang terbuat dari batik tulis dan ini banyak dikejar oleh masyarakat, tentunya dengan harga yang terjangkau," katanya.

"Beberapa waktu lalu, Yayasan Batik Indonesia (YBI) memborong ratusan ribu masker batik untuk dibagi-bagikan. Ini harus menjadi peluang bagi para perajin batik di Indonesia, khususnya di Jabar," imbuhnya.

Pihaknya pun, sudah memproduksi puluhan ribu masker batik termasuk masker batik hasil desain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Kini, masker yang terdapat huruf RK ini menjadi buruan para pecinta masker batik.

"Jelas ini menjadi peluang bagus bagi para perajin dan pengusaha batik di tengah pandemi Covid-19," ujarnya.

Komarudin pun menyebutkan, saat ini sejadah batik mulai dilirik oleh para muslim. Pasalnya, sejadah batik ini sangat ringan dan mudah dicuci setelah dipakai beribadah di masjid atau musala serta cepat kering juga.

"Selain ringan dan mudah dicuci dan cepat kering, sejadah batik ini pun motifnya sangat sederhana cukup geomtrik saja yang penting ada gambar arah kinlat (masjid) atau sebagainya. Bahkan harganya pun ringan di kantong dan cukup terjangkau," jelasnya.

Dikatakan Komar, sejadah batik sengaja diproduksi agar ada pilihan, juga saat ini setiap salat di masjid diwajibkan bawa sejadah sendiri. "Kita tetap mengikuti perkembangan yang terjadi saat ini, dan berupaya memberikan kemudahan bagi masyarakat," tambahnya